Seakan membeli payung di musim kemarau panjang, Apakah ini perumpamaan yang tepat kegiatan shopping Galliani beberapa waktu lalu??
Ronaldinho, playmaker brilian asal Brazil akhirnya resmi berkostum AC Milan. Namun Ancelotti pun menyambut kedatangannya dengan senyuman seperti dipaksa. Bagai seorang sniper tak bersenjata yang diberikan pisau belati. Sniper butuh senjata yang memiliki kemampuan menembak dari jarak jauh, bukan pisau belati untuk berkelahi jarak dekat.
Mengapa demikian?. Ancelotti saat ini membutuhkan seorang striker murni, seorang bomber yang dapat memanfaatkan peluang sekecil apapun menjadi sebuah gol. Sedangkan Ronaldinho merupakan tipikal playmaker yang lebih suka mengatur serangan ketimbang mencari posisi untuk mencetak gol.
Skuad Milan sebelumnya telah memiliki pemain berkarakter sama seperti Saya rekan senegaranya Ricardo Izecson de Santos Leite alias Kaka’. Hal ini mengingatkan Saya pada cerita di Komik “Fantasista”. Diceritakan saat itu Jepang memiliki dua orang Fantasista (playmaker berimajinasi tinggi) yaitu Sakamoto Teppei dan Kaoru Okita , namun pelatih Jepang berpendapat bahwa dalam satu tim hanya dibutuhkan seorang Fantasista untuk memberikan roh dalam permainan, sehingga salah satu dari mereka saja yang dimainkan.
Kemudian apakah ini artinya Milan salah membeli pemain?. Saya kira Ancelotti bukan lah seorang yang tidak kreatif, bukan lah seorang tentara yang hanya bisa mengandalkan senjata laras panjang untuk berperang. Terbukti dengan inovasinya menempatkan Andrea Pirlo yang juga tipikal playmaker sebagai pemain jangkar justru mengubah Milan sebagai tim yang sangat kokoh di lini tengah.
Kedatangan Ronaldinho ke Milan justru membuat saya menanti kreativitas-kreativitas dari Carlo Ancelotti. Bukan tidak mungkin dua orang Fantasista dalam satu tim dimainkan sekaligus. Di komik nya pun pada akhirnya diceritakan Sakamoto Teppei dan Kaoru Okita dimainkan bersamaan saat Jepang melawan Italia saat Final Olimpiade di Jepang. Teppei dan Okita merupakan dua orang fantasista yang mempunyai cara yang berbeda, namun mereka berhasil menyatukan imajinasi mereka dan memenangkan pertandingan. Begitu pula yang Saya harapkan dengan Kaka’ dan Ronaldinho. Bayangkan.. seorang Fantasista saja bisa membuat kita berdebar-debar. Bagaimana dengan dua orang Fantasita sekaligus dalam satu tim??

